Api TPA Ciniru Bisa Padam, Tapi Bahayanya Belum Tentu Berakhir

KUNINGAN – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Ciniru, Desa Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, bukan hanya menyisakan persoalan api yang harus dipadamkan. Di balik kepulan asap, terdapat potensi dampak lain yang perlu diperhatikan, mulai dari kualitas udara hingga gangguan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi.

Berdasarkan laporan Pusdalops PB BPBD Kabupaten Kuningan, kebakaran TPA Ciniru terjadi pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 05.00 WIB. Informasi mengenai kejadian tersebut diterima BPBD sekitar pukul 06.00 WIB.

Baca juga:Jelang Musda Golkar Kuningan, Bupati Dian Tegaskan Tak Berminat Jadi Ketua

Dalam laporan tersebut, kondisi cuaca pada pagi hari secara umum cerah berawan. Kecepatan angin tercatat sekitar 14,2 kilometer per jam dengan arah angin dari selatan.

Kondisi angin menjadi salah satu faktor penting dalam melihat potensi penyebaran asap. Asap dari lokasi kebakaran dapat terbawa mengikuti arah angin sehingga wilayah di sekitar lokasi, khususnya yang berada di jalur pergerakan asap, berpotensi mengalami paparan.

Kebakaran di area TPA memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kebakaran pada bangunan atau lahan terbuka. Sampah yang menumpuk dapat terdiri dari berbagai material, sehingga proses pembakaran berpotensi menghasilkan campuran asap dan partikel pencemar.

Salah satu yang perlu menjadi perhatian adalah partikulat halus seperti PM2.5 dan PM10. Partikel tersebut dapat terhirup ketika masyarakat berada di area yang terpapar asap.

Paparan asap dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan. Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman hingga gangguan pernapasan juga berpotensi muncul, terutama pada masyarakat yang berada dekat dengan sumber asap atau terpapar dalam waktu cukup lama.

Namun, potensi tersebut tidak berarti kebakaran TPA Ciniru telah menyebabkan peningkatan kasus ISPA. Untuk memastikan adanya dampak kesehatan, diperlukan data dari fasilitas pelayanan kesehatan serta pemeriksaan kualitas udara di wilayah terdampak.

Paparan asap kebakaran menjadi perhatian khusus bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki masalah pernapasan.

Jika asap menyebar ke kawasan permukiman, masyarakat dapat mengurangi paparan dengan menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara dipenuhi asap dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus berada di luar rumah.

Langkah tersebut menjadi penting terutama apabila kebakaran berlangsung cukup lama atau asap terus terbawa angin menuju permukiman.

 

Persoalan kebakaran TPA juga tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan.

 

Sisa pembakaran berupa abu dan material residu dapat tertinggal di sekitar lokasi. Ketika terjadi hujan, material tersebut berpotensi terbawa aliran permukaan dan masuk ke tanah maupun saluran air di sekitar area TPA.

Karena itu, potensi dampak lingkungan pascakebakaran juga perlu diperhatikan. Pemeriksaan kualitas tanah dan air dapat menjadi langkah penting apabila terdapat indikasi material hasil pembakaran terbawa keluar dari kawasan TPA.

Tanpa pemeriksaan laboratorium, kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai pencemaran. Namun, potensi risikonya tetap perlu diantisipasi, terutama apabila terdapat sumber air atau lingkungan permukiman yang berada tidak jauh dari lokasi.

Kebakaran TPA dan Pertanyaan yang Perlu Dijawab

Kebakaran TPA Ciniru pada akhirnya bukan hanya menyisakan pertanyaan tentang bagaimana api dipadamkan. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: seberapa jauh asap menyebar dan apa dampaknya terhadap kualitas udara di sekitar lokasi?

Pengukuran konsentrasi PM2.5 dan PM10 dapat memberikan gambaran mengenai kualitas udara selama maupun setelah kebakaran. Data tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan kondisi normal untuk melihat apakah terjadi peningkatan partikulat.

Selain itu, pemantauan keluhan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi juga penting. Data dari puskesmas atau fasilitas kesehatan dapat membantu melihat apakah terdapat peningkatan keluhan seperti batuk, sesak napas atau gangguan pernapasan setelah kejadian.

Dengan demikian, dampak kebakaran TPA Ciniru tidak hanya dinilai dari luas area yang terbakar atau keberhasilan pemadaman. Kualitas udara, kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi juga menjadi bagian penting yang perlu dipantau.

Baca juga: Uniku Gelar Wisuda ke-34, Rektor Anna Beberkan Deretan Prestasi Internasional Mahasiswa

Sebab, ketika api sudah padam, persoalan belum tentu benar-benar selesai. Asap mungkin menghilang dari pandangan, tetapi potensi dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan tetap perlu diperhatikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *