KUNINGAN – Puluhan ekor ikan dewa yang selama ini menjadi ikon dan daya tarik wisata di Kolam Renang Cigugur, Kabupaten Kuningan, ditemukan mati dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa tersebut memicu perhatian publik, mengingat ikan dewa dikenal sebagai satwa langka yang dikeramatkan dan menjadi simbol wisata sejarah Balong Cigugur.
Plt Direktur Perumda Aneka Usaha (AU) Kuningan, Tatiek Ratna Mustika, mengungkapkan bahwa kematian ikan dewa tersebut diduga kuat dipicu oleh penurunan kualitas air kolam akibat cuaca hujan yang terjadi terus-menerus.
“Berdasarkan hasil pemantauan sementara bersama dinas terkait dan BTNGC, ditemukan adanya parasit cacing jangkar pada tubuh ikan. Parasit ini menyerang dengan cara menyerap nutrisi ikan, sehingga kondisi ikan melemah dan akhirnya mati,” ujar Tatiek saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, curah hujan tinggi menyebabkan air kolam menjadi lebih asam. Kondisi tersebut menjadi lingkungan yang ideal bagi berkembangnya parasit cacing jangkar, yang umumnya menyerang ikan dalam kondisi air tidak stabil.
“Cuaca hujan membuat tingkat keasaman air meningkat. Parasit ini memang berkembang di air yang cenderung asam, bukan hanya di sektor perikanan, tapi juga berdampak di sektor pertanian,” jelasnya.

Sebagai langkah cepat, pengelola telah melakukan karantina terhadap ikan yang terindikasi sakit untuk mencegah penularan ke ikan lainnya. Ikan-ikan tersebut dipindahkan ke kolam terpisah guna penanganan lebih lanjut.
“Kami sudah menugaskan petugas untuk melakukan karantina ikan yang terlihat sakit. Ini langkah awal agar tidak menular ke ikan lain yang masih sehat,” kata Tatiek.
Selain karantina, pihak Perumda AU juga melakukan penanganan kualitas air dengan menurunkan tingkat keasaman kolam, salah satunya melalui penaburan garam kasar sesuai rekomendasi teknis.
“Upaya penanganan air sudah dilakukan, termasuk penyesuaian pH. Namun kondisi ini tetap harus dipantau secara berkala,” tambahnya.
Tatiek menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk dinas yang membidangi perikanan dan lingkungan, guna memastikan penyebab kematian ikan dapat ditangani secara menyeluruh.
Meski demikian, ia memastikan bahwa aktivitas wisata Kolam Renang Cigugur tetap dibuka untuk umum. Area kolam renang pengunjung telah terpisah dari kolam ikan dewa, sehingga tidak berdampak pada keselamatan maupun kesehatan pengunjung.
“Objek wisata tetap buka. Kolam ikan dan kolam renang pengunjung terpisah, sehingga tidak berpengaruh terhadap aktivitas berenang,” tegasnya.
Perumda AU Kuningan berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan intensif demi menjaga kelestarian ikan dewa sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Kuningan.(ale)













