Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaPemerintahanPeristiwa

Wisata Alam Cilengkrang Terancam Limbah Kohe, Begini Respons DLH

103
×

Wisata Alam Cilengkrang Terancam Limbah Kohe, Begini Respons DLH

Sebarkan artikel ini

KUNINGANid – Aktivitas wisata di jalur tracking Lembah Cilengkrang kembali menjadi sorotan. Limbah kotoran hewan (kohe) dari peternakan sapi perah dilaporkan masih terbawa aliran air hujan hingga memasuki jalur wisata, terutama saat curah hujan tinggi.

Kondisi tersebut menimbulkan keluhan dari pengunjung dan pelaku wisata karena menimbulkan bau tidak sedap serta mencemari aliran air di sekitar jalur pendakian.

Menanggapi hal itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan (DLH) memastikan telah melakukan langkah penanganan bersama para peternak dan koperasi susu.

Kepala DLH Kabupaten Kuningan Usep Sumirat melalui Kabid Pengendalian, Pemulihan dan Penataan Hukum Rismunandar S.Hut., M.Si saat dikonfirmasi Selasa (17/2/2026) menyampaikan bahwa persoalan tersebut dipicu oleh limpasan air permukaan (run off) saat hujan deras.

“Di wilayah tertentu IPAL komunal sebenarnya sudah dibangun. Namun ketika curah hujan tinggi, aliran permukaan masih membawa sisa limbah ternak ke arah jalur wisata Cilengkrang. Ini yang sedang kami evaluasi untuk diperkuat sistem pengendaliannya,” ujarnya.

Jalur tracking Lembah Cilengkrang dikenal sebagai salah satu destinasi favorit wisata alam di Kabupaten Kuningan. Selain pemandangan lembah dan hutan, kawasan ini menjadi akses menuju air terjun dan sumber air panas alami.

Masuknya limbah kohe ke jalur wisata tidak hanya mengganggu kenyamanan pengunjung, tetapi juga berpotensi mencemari ekosistem aliran sungai kecil di kawasan tersebut.

DLH menilai persoalan ini perlu ditangani secara menyeluruh, mengingat sektor peternakan sapi perah juga menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat.

DLH bersama pemerintah desa dan kelompok peternak telah menyepakati beberapa langkah strategis, di antaranya:

  • Optimalisasi fungsi IPAL komunal agar lebih mampu menahan limpasan saat hujan deras.
  • Perbaikan sistem drainase untuk mencegah kohe terbawa aliran permukaan ke jalur wisata.
  • Kerja sama pengelolaan limbah menjadi pupuk cair dan pupuk padat.
  • Penguatan peran koperasi susu dalam pengawasan dan pengelolaan limbah peternak.

“Ke depan, pengelolaan limbah tidak hanya fokus pada pengendalian pencemaran, tetapi juga pada pemanfaatan menjadi pupuk yang memiliki nilai ekonomis. Dengan begitu, peternak juga terdorong untuk lebih disiplin dalam pengelolaan kohe,” jelas Rismunandar.

DLH menegaskan, upaya ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan wisata alam Lembah Cilengkrang tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha peternakan warga.

Sinergi antara pemerintah daerah, koperasi susu, dan peternak diharapkan mampu menekan potensi pencemaran, terutama saat musim hujan.

“Targetnya jelas, jalur tracking Cilengkrang harus bersih dan nyaman bagi wisatawan, sekaligus pengelolaan limbah peternakan menjadi lebih tertata dan berkelanjutan,” pungkasnya.(ale)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *