KuninganID – Ayatollah Ali Khamenei memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade dan membentuk arah politik negara itu secara mendalam. Ia wafat pada 28 Februari 2026 dalam usia 86 tahun, mengakhiri era panjang kepemimpinannya sebagai otoritas tertinggi Iran.
(Baca juga: Lapas Kuningan Gandeng MPR RI Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan kepada 150 Warga Binaan)
Lahir dari Keluarga Sederhana
Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Provinsi Khorasan. Ia tumbuh dalam keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, mengajarkan hidup asketis dan menanamkan nilai kesederhanaan sejak dini.
Sejak kecil, Khamenei menempuh pendidikan agama. Pada usia empat tahun, ia mulai belajar Al-Qur’an di maktab tradisional. Ia kemudian melanjutkan studi ke hawza di Mashhad sebelum memperdalam ilmu di Najaf dan Qom.
Di Qom, ia berguru langsung kepada Ayatollah Ruhollah Khomeini sejak 1958. Hubungan itu membentuk pandangan politiknya dan memperkuat sikapnya terhadap perlawanan monarki.
(Baca juga: Lapas Kuningan Gandeng MPR RI Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan kepada 150 Warga Binaan)
Aktif Melawan Rezim Shah
Pada 1960-an, Khamenei aktif menentang pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia menyampaikan ceramah-ceramah politik dan menyebarkan gagasan revolusioner. Aparat SAVAK beberapa kali menangkap dan memenjarakannya.
Kedekatannya dengan Khomeini mendorong perannya dalam Revolusi Islam 1979. Setelah revolusi menggulingkan monarki, Khamenei langsung terlibat dalam pemerintahan baru.
Ia bergabung dalam Dewan Revolusi, menjabat wakil menteri pertahanan, serta menjadi perwakilan Khomeini di Dewan Pertahanan Tertinggi. Pada 1981, rakyat memilihnya sebagai Presiden Iran ketiga.
Pada tahun yang sama, ia selamat dari percobaan pembunuhan yang melumpuhkan tangan kanannya.
(Baca juga: KDM Dipastikan Hadir! Neuleuman Simpena Peuting di Cibingbin Bakal Meriah)
Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Setelah Ayatollah Khomeini wafat pada Juni 1989, Majelis Ahli menunjuk Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar) Republik Islam Iran. Untuk memenuhi syarat konstitusional, otoritas keagamaan Iran kemudian menetapkannya sebagai Ayatollah.
Sejak 1989, Khamenei memegang kendali atas militer, kehakiman, dan kebijakan luar negeri Iran. Ia mengarahkan strategi politik nasional serta menentukan sikap Iran terhadap Barat.
Di bawah kepemimpinannya, Iran mengembangkan program nuklir, memperkuat Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC), serta membangun aliansi regional yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan.”
Ia juga mendorong konsep “ekonomi perlawanan” guna mengurangi ketergantungan terhadap Barat.
Warisan yang Diperdebatkan
Selama kepemimpinannya, Khamenei menghadapi berbagai gelombang protes domestik, termasuk Gerakan Hijau 2009 dan demonstrasi besar pada 2022. Pemerintah merespons protes tersebut dengan pendekatan keamanan yang ketat.
Pendukungnya memuji Khamenei sebagai penjaga revolusi dan simbol kedaulatan Iran. Namun para pengkritiknya menilai ia membatasi ruang politik dan kebebasan sipil.
Kepergian Ali Khamenei menutup bab penting dalam sejarah modern Iran. Warisannya akan terus memengaruhi arah politik negara itu dan dinamika kawasan Timur Tengah.














