Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaPemerintahan

Perempuan Jadi Pilar Ketahanan Pangan, Kuningan Galakkan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk Ekonomi Keluarga

151
×

Perempuan Jadi Pilar Ketahanan Pangan, Kuningan Galakkan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk Ekonomi Keluarga

Sebarkan artikel ini

KUNINGANid – Perempuan dinilai memiliki posisi sentral dalam membangun ketahanan pangan keluarga. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan terus mendorong pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai sumber pangan mandiri sekaligus penopang ekonomi rumah tangga.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., dalam dialog bertema pemberdayaan perempuan melalui pemanfaatan pekarangan yang digelar Fatayat NU Kabupaten Kuningan di Teras Pendopo, Sabtu (11/4/2026).

Menurut Wahyu, perempuan bukan hanya bertanggung jawab dalam menentukan pola konsumsi keluarga, tetapi juga berperan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga, terutama saat harga bahan pangan mengalami kenaikan.

“Perempuan adalah penggerak utama dalam pengelolaan pangan keluarga. Mereka menentukan kualitas gizi, keberagaman menu, hingga efisiensi belanja rumah tangga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemanfaatan pekarangan rumah menjadi langkah strategis yang mudah diterapkan masyarakat. Lahan sempit pun dapat dimaksimalkan melalui berbagai metode, seperti penanaman menggunakan polybag, pot, maupun sistem vertikultur.

Beragam tanaman yang dapat dibudidayakan di pekarangan antara lain sayuran daun, cabai, tomat, tanaman hortikultura, hingga tanaman obat keluarga atau biofarmaka.

Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, hasil pekarangan juga dapat memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi keluarga. Produk hasil panen dapat dijual langsung atau diolah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.

“Pekarangan rumah yang dikelola dengan baik bisa mengurangi pengeluaran belanja sekaligus membuka peluang usaha skala kecil,” kata Wahyu.

Pemkab Kuningan juga mendorong gerakan kolektif melalui Kelompok Wanita Tani (KWT), dasawisma, dan organisasi perempuan agar program ini berjalan berkelanjutan dan berdampak luas.

Wahyu menilai, semakin kuat keterlibatan komunitas perempuan, semakin besar kontribusi terhadap ketahanan pangan daerah.

“Ketahanan pangan dimulai dari keluarga. Jika perempuan berdaya, maka fondasi pangan daerah juga akan semakin kokoh,” tegasnya.

Ia pun mengapresiasi langkah Fatayat NU yang aktif mengedukasi perempuan agar lebih produktif dalam memanfaatkan potensi rumah tangga.

Dengan gerakan ini, Kabupaten Kuningan berharap pekarangan rumah tidak lagi dipandang sebagai lahan kosong, melainkan aset produktif yang menopang kemandirian pangan dan kesejahteraan keluarga.(ale)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *